3 ELEMEN PENTING PENDIDIKAN (PENIMBA ILMU – GURU – ORTU)Merupakan 3 (tiga) kunci sukses proses pendidikan pelajar, murid, ataupun santri
Belajar atau mencari ilmu adalah kebutuhan setiap
manusia, mengingat bahwa kehidupan manusia tidak akan sepi dari proses belajar,
sejak mulai manusia dilahirkan sampai menemui kematian. Dalam pengamatan kami,
ditinjau dari pihak yang terlibat dalam proses menimba ilmu/ belajar,
setidaknya ada tiga (3) unsur yang akan
menjadi kunci menggapai kesuksesan dalam belajar, yakni : (1) kemauan
dan kesadaran diri peserta didik/ murid, (2) keistiqomahan/ keberadaan
guru pendidik, dan (3) Doa restu serta dorongan/ dukungan motivasi dari
orangtua peserta didik.
1.
Kemauan dan kesadaran diri pelajar/ peserta didik
“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” (HR. Imam Muslim)
Perlu diketahui bersama, bahwa agama Islam memandang pendidikan adalah kewajiban sekaligus hak setiap manusia baik laki-laki atau perempuan dan berlangsung sepanjang hayat. Kehidupan dunia tidak akan sepi dari proses belajar, sejak mulai manusia dilahirkan sampai menemui kematian. Islam telah merencanakan pendidikan manusia dalam Al-Qur’an maupun hadits, seperti : siapa manusia? dari mana asal manusia dan mau ke mana? untuk apa manusia dicipta? dan harus bagaimana manusia hidup di dunia?. Hal ini yang akan mendorong dan mengarahkan manusia mencari tujuannya dengan terus menerus belajar. Dengan kata lain, belajar atau menuntut ilmu adalah suatu aktivitas, ibadah, sekaligus tanggung jawab manusia yang selalu melekat selama masih bernafas di dunia yang dilakukan sepanjang usia, tidak mengenal umur, jenis kelamin, jarak, maupun keadaan geografis. Artinya, ibadah menuntut ilmu ini adalah aktivitas yang tidak berujung, kecuali satu pemutus, yaitu kematian.
أُطْلُبُ الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ إلى اللَّهْدِ
Carilah ilmu mulai dari ayunan, hingga liang lahat (kuburan).
Dalam
Al-Quran surat terakhir, yakni surat An-Naas Syeikh Zakaria Al-Anshori,
dalam kitabnya Fath Ar-Rahman merenungi Surat An-Naas, merupakan satu proses
kehidupan manusia di dunia. Perkataan An-Naas dalam surat ini disebut beberapa kali
sebagai tambahan perhatian. Penyebutan tersebut dapat direnungi sebagai proses
kehidupan manusia di dunia ini: Pertama, masa anak-anak (remaja) الأطفال direnungi dari Firman Allah رَبِّ النَّاسِ dengan makna
ربوية yang bermakna memiliki, mendidik dan memelihara. Dapat
dikatakan masa inilah masa-masa pendidikan/ pencarian ilmu yang dilakukan manusia. Kedua, masa dewasa dengan
merenungi Firman ملك الناس Raja
manusia yang menunjukkan arti السياسة (politik). Dapat dikatakan, masa inilah
waktunya manusia kiprah dalam pergaulan dan percaturan sebagai bentuk
pengamalan ilmu. Ketiga, masa tua (lanjut usia) dengan merenungi Firman
Allah إله الناسyang
menunjukkan atas ibadah, karena إله الناس berarti sesembahan manusia. Dapat
dikatakan, masa ini adalah waktunya manusia berfikir untuk kembali kepada Allah
Ta'ala dengan bekal ilmu yang telah ia miliki. Dari 3 fase ini ternyata manusia tetap
membutuhkan yang namanya belajar atau mencari ilmu, maka si penimba ilmu harus
menyadari sedini mungkin sehingga memiliki kemauan keras dan semangat untuk
terus belajar.
2.
Kesitiqomahan Guru
dalam mengajar
Pelaku
kedua dalam proses belajar adalah guru. Guru merupakan sosok terhormat yang
selalu memotivasi siswa-siswanya agar menjadi orang yang haus akan ilmu. Menjadi
guru adalah panggilan dari hati nurani. Menjadi guru berarti menjadi pendidik,
mendidik tidak hanya sepintas berlangsung di dalam kelas. Akan tetapi, setiap
ruang adalah sekolah dan setiap waktu adalah jadwal untuk selalu memperbaharui
sikap, mengembangkan ilmu, dan belajar. Guru disebut sebagai manusia pembelajar
yang siap setiap saat untuk selalu menempa ilmu dan membangun karakter dirinya.
Guru adalah manusia yang selalu berupaya untuk sadar dan berbuat yang terbaik
bagi pendidikan.
Istiqamah
berasal dari kata istaqaama-yastaqiimu, yang berarti tegak lurus. Dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia, istiqamah diartikan sebagai sikap teguh pendirian
dan selalu konsekuen, sekalipun menghadapi berbagai macam tantangan dan godaan.
Seseorang yang istiqamah laksana batu karang di tengah-tengah lautan yang tidak
bergeser sedikit pun walau dipukul oleh gelombang yang bergulung-gulung. Keistiqomahan
guru, atau komitmen guru dalam mengajar penimba ilmu (murid- red) menjadi faKtor
penting, mengapa demikian? Karena dari gurulah seorang murid akan mendapatkan
ilmu sekaligus penjelasannya, murid akan mendapatkan keteladanan yang ia temui
dari interaksi dengan Sang Guru, murid juga akan mendapatkan arahan serta
bimbingan dari guru dalam mengatasi suatu permasalahan yang ia hadapi, dan masih
banyak lagi keutamaan yang akan didapat Si penimba ilmu kalau bisa bertemu/
bertatap muka dengan guru yang dalam
proses belajarnya. Bisa dibayangkan, jikalau guru sering izin atau tidak masuk
mengajar, atau sering terjadi ‘jamkos’ (Jam kosong) dalam KBM? apakah penugasan kepada murid dapat mewakili
kehadiran seorang guru?. Apakah mengikut
banyak pelatihan pada jam mengajar itu
lebih utama daripada membersamai murid
belajar di kelas ? Apakah guru
yang ‘nyambi’ berwirausaha di jam kerja/ mengajar itu sudah sesuai
dengan kode etik ? Bagaimana nasib peserta didik tersebut?
“Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya”.(QS. Al-Muddassir :38)
فَلِذَٰلِكَ فَٱدْعُ ۖ وَٱسْتَقِمْ كَمَآ أُمِرْتَ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَآءَهُمْ ۖ
“dan istiqamahlah (dalam dakwah dan kebaikan) sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka….” (QS. Asy- Syuura : 15)
3.
Dukungan /dorongan
orang tua
Orangtua (ortu) merupakan sebuah predikat yang bukan sebatas sebutan belaka. Menjadi orangtua artinya memiliki serangkaian tanggung jawab yang harus dipenuhi, utamanya kepada anak yang ia lahirkan. Anak merupakan titipan amanat, anak memiliki hak-hak yang harus dipenuhi orangtua mulai dari lahir hingga dewasa (baligh) nanti. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Rosul,
حَقُّ الْوَلَدِ عَلَى الْوَالِدِ أَنْ يُحْسِنَ اسْمَهُ وَيُعَلِّمَهُ الْكِتَابَةَ وَيُزَوِّجَهُ إِذَا بَلَغَ
“Hak anak atas orang tuanya yaitu memberikan nama yang baik,
mengajarkannya baca tulis (mendidik adab dan ilmu), dan menikahkannya ketika
sudah usia baligh”. (HR. Imam Al-Baihaqi).
Ketika orang tua menitipkan buah hatinya ke suatu lembaga pendidikan, tanggungjawab orangtua tidak lepas begitu saja, orangtua tetap harus ikut berkontribusi. Orangtua harus mendukung penuh proses belajar anak, dengan selalu mendoakannya, tetap memberinya perhatian serta curahan kasih sayang, memberikan biaya pendidikan, memfasilitasi keperluan pendidikan anak, dan hal lain yang dibutuhkan anak dalam proses belajarnya. Anak adalah aset berharga bagi orang tua, melebihi kekayaan yang ortu miliki, karena anak merupakan investasi jariyah orangtua, seorang anak akan turut menentukan kebahagiaan/ kemuliaan ortu di kehidupan akhirat kelak. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah bersabda:
“Ketika
seseorang telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali 3 perkara :
shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang berdoa baginya.”(HR.
Imam Muslim).
Orangtua
mana yang tidak ingin punya anak sholih? Menjadi generasi emas ? menjadi penerus
keturunan/ pewaris yang unggul? Untuk memiliki itu semua diperlukan usaha keras
dari orangtua, senantiasa mendukung proses belajar sang anak. Karena dukungan
orangtua sangat diperlukan dan diharapkan, baik oleh anak ataupun juga lembaga penididikan yang ortu pilih sebagai
tempat belajar si buah hati.
SUMBER BACAAN
:
- · Targhibul Khothir Fil Quran (Memikat hati dengan Al-Quran) KH Asyhari Marzuqi, Pustaka Pelajar, September 2002. Yogyakarta.
- · Darani, N. P. (2021). Kewajiban Menuntut Ilmu dalam Perspektif Hadis. Jurnal Riset Agama, 1(1), 133–144. http://journal.uinsgd.ac.id/index.php/jra/article/view/14345
- · Khasanah, W. (2021). Kewajiban menuntut ilmu dalam Islam. Jurnal Riset Agama, 1(2), 296–307. http://journal.uinsgd.ac.id/index.php/jra/article/view/14568
·____________________
Oleh : Iin Solikhin
Pengajar di Pondok Pesantren Al-Muyamman, Giwangan Kota Yogyakarta
Pengajar ISMUBA/ PAI dan Bahasa Jawa PPM MBS Pleret Bantul Yogyakarta
Pengajar di Pesantren Darul Mushlihin Pusat, Jurugentong, Banguntapan, Bantul Yogyakarta
Komentar
Posting Komentar