REFRENSI : 7 (Tujuh) Kitab Dasar yang Diajarkan di Pesantren


7 (Tujuh) Kitab Dasar yang Diajarkan 
di Pesantren







Kitab kuning, dalam pendidikan agama islam, merujuk kepada kitab-kitab tradisional yang berisi pelajaran-pelajaran agama islam (diraasah al-islamiyyah) yang diajarkan pada Pondok-pondok Pesantren, mulai dari fiqh, aqidah, akhlaq/tasawuf, tata bahasa arab (`ilmu nahwu dan `ilmu sharf), hadits, tafsir, `ulumul qur’aan, hingga pada ilmu sosial dan kemasyarakatan (mu`amalah). Dikenal juga dengan kitab gundul karena memang tidak memiliki harakat (fathah, kasrah, dhammah, sukun), tidak seperti kitab Al-Qur’an. Oleh sebab itu, untuk bisa membaca kitab kuning harus tau harfiah kalimat per kalimat agar bisa dipahami secara menyeluruh, dibutuhkan waktu belajar yang relatif lama.

Dalam dunia pesantren, kitab kuning menjadi rujukan utama. Yang menarik, kitab kuning yang diajarkan telah memiliki umur yang cukup lama, hingga ratusan tahun tetap terjaga keasliannya. Kitab kuning biasa nya berisi 7 kitab dasar untuk belajar santri di pesantren. Kitab kuning hanya ada di pesantren saja, di sekolah lain nya biasa nya memakai Al-Qur’an sebagai paduan belajar agama. Apa saja isi kitab kuning yang biasanya ada di pesantren? Berikut akan kami share tujuh kitab dasar yang dipelajari di pesantren dari berbagai macam cabang ilmu agama.

7 Kitab Dasar yang ada di Kitab Kuning:

1. Kitab Al-Ajurumiyah (Nahwu)

Salah satu kitab dasar yang mempelajari ilmu nahwu. Setiap santri yang menginginkan belajar kitab kuning wajib belajar dan memahami kitab ini terlebih dahulu. Karena tidak mungkin bisa membaca kitab kuning tanpa belajar kitab Jurumiyah, pedoman dasar dalam ilmu nahwu. Adapun tingkatan selanjutnya setelah Jurumiyah adalah Imrithi, Mutamimah, dan yang paling tinggi adalah Alfiyah. Al-Jurumiyah dikarang oleh Syekh Sonhaji dengan memaparkan berbagai bagian di dalamnya yang sistematis dan mudah dipahami.

2. Kitab Amtsilah At-Tashrifiyah (Shorof)

Jika nahwu adalah bapaknya, maka shorof ibunya. Begitulah hubungan kesinambungan antara dua jenis ilmu itu. Keduanya tak bisa dipisahkan satu sama yang lainnya dalam mempelajari kitab kuning. Salah satu kitab yang paling dasar dalam mempelajari ilmu shorof adalah Kitab Amtsilah Tashrifiyah yang dikarang salah satu ulama Indonesia, beliau KH. Ma’shum ‘Aly dari Jombang. Kitab tersebut sangat mudah dihafalkan karena disusun secara rapi dan bisa dilagukan dengan indah. Denga nada nya kitab ini santri mudah untuk memahami dan menghafalkan kitab.

3. Kitab Mushtholah Al-hadits (Ulumul Hadits)

Kitab dasar selanjutnya adalah Kitab Mushtholah Al-Hadits yang mempelajari ilmu mengenai seluk beluk ilmu hadits. Mulai dari macam-macam hadits, kriteria hadits, syarat orang yang berhak meriwayatkan hadits dan lain-lain dapat dijadikan bukti kevalidan suatu matan hadits. Kitab ini dikarang oleh al-Qodhi abu Muhammad ar-Romahurmuzi yang mendapatkan perintah dari Kholifah Umar bin Abdul Aziz karena pada waktu itu banyak orang yang meriwayatkan hadist-hadist palsu.




4. Kitab Arba'in Nawawi (Hadits)

Pada kitab yang telah disebutkan di atas merupakan kitab dasar dalam menspesifikasikan kedudukan hadits. Berbeda lagi dengan kitab matan hadits yang harus dipelajari di dunia pesantren, yaitu Kitab Arba'in Nawawi karangan Abu Zakariya Yahya bin Syaraf bin Murri Al Nizami An-Nawawi yang berisi 42 matan hadits. Selain itu beliau juga mengarang berbagai kitab antara lain Riyadhus Sholihin, Al-Adzkar, Minhajut Tholibin, Syarh Muslim, dan lain-lain. Muatan tema yang dihimpun dalam kitab ini meliputi dasar-dasar agama, hukum, muamalah, dan akhlak

5. Kitab At-Taqrib (Fiqih)

Fiqh merupakan hasil turunan dari Al-Quran dan Al-Hadist setelah melalui berbagai paduan dalam ushul fiqh. Kitab Taqrib yang dikarang oleh Al-Qodhi Abu Syuja' Ahmad bin Husain bin Ahmad Al-Ashfahaniy adalah kitab fiqh yang menjadi rujukan dasar dalam mempelajari ilmu fiqh. Di atas Kitab Taqrib ada Kitab Fathul Qorib, Tausyaikh, Fathul Mu'in, dan semuanya syarat atau penjelasan dari At-Taqrib.

6. Kitab Aqidahul Awam (Aqidah/ Tauhid/ ilmu Kalam)

Hal mendasar dalam agama adalah kepercayaan atau aqidah. Jika aqidah sudah mantap, kuat dan benar maka dalam menjalani syariat agama tidak akan menyeleweng dari aturan syariat yang telah ditentukan. Kitab dasar aqidah yang dipelajaritren adalah kitab Aqidatul Awam karangan Syaikh Ahmad Marzuqi Al-Maliki berisi 57 bait nadzom. Kitab ini dikarang atas perintah Rasulullah yang mendatangi sang pengarang melaluinya. Hingga beliau mampu menyelesaikan kitab tersebut sebagai referensi sumber literasi ilmu Aqidah di berbagai tempat. Termasuk juga di Indonesia yang sebagian memakai kitab ini, sebagai dasar untuk mengajar para santri.

7. Kitab Ta'limul Muta'alim (Akhlaq/ Adab)

Sepandai manusia apapun serta sebanyak apapun ilmu yang dikuasainya, semuanya tidak akan bisa menghasilkan ilmu sarinya tanpa adanya akhlaq. Hal dasar bagi para pencari ilmu agar ilmunya manfaat dan barokah adalah harus mengutamakan akhlaq. Kitab dasar yang dijelaskan mengenai akhlaq di dunia pesantren adalah kitab Ta'limul-Muta'alim karangan Syaikh Burhanuddin Az-Zarnuji. Setiap awal proses belajar di pesantren sesuai adatnya pasti mempelajari kitab ini ataupun kitab lain yang seakar dengan Ta'limul Muta'alim, seperti kitab Adabul 'alim wal Muta'alim karangan ulama' besar Indonesia, Pahlawan Nasional sekaligus pendiri jam'iyah Nahdlatul Ulama, Hadratus Syekh KH Hasyim Asy'ari. Kedua kitab ini pun juga menjadi kurikulum wajib bagi pesantren yang ada di Indonesia bahkan hingga luar negeri.

Sungguh kaya khazanah ilmu pengetahuan Islam yang ada di dunia pesantren. Ada sekitar 200 judul kitab yang dipelajari di pesantren menurut data yang pernah dikemukakan oleh Gus Dur. Kalangan pesantren terus berupaya agar kebudayaan pesantren ini dapat eksis di tengah perubahan zaman dan globalisasi. Literasi budaya salaf ini mampu menunjukkan kiprah para ulama sebagai warotsatul ambiya' (pewaris para Nabi). Wallahua'lam bishshowab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DOA MUSTAJAB : MELEPAS BELENGGU PENYAKIT

Pembukaan Majelis Selapanan Al-Muyamman : Tiga Hal yang Harus Diwaspadai

TA'ARUF ; MENGENAL AL-MUYAMMAN